Senin, 13 Juli 2020

Redesain Your Dream

"Masa depan hanyalah milik orang-orang yang percaya akan keindahan mimpi-mimpi mereka". 
- Eleanor Roosevelt-

Beberapa waktu yang lalu dalam acara Oprah Winfrey, dihadirkan salah seorang remaja yang bagi saya perjalanan hidupnya sangat inspiratif. Remaja itu bernama Charmaine Claire Relucio Pempengco. Ia lebih dikenal sebagai Charice.

Charice lahir di Cabuyao, Laguna, Filipina. Pada usia 3 tahun, ibunya berpisah dengan ayahnya karena kekerasan dalam rumah tangga. Ayah Charice sangat temperamental dan kerap menyiksa sang ibu. Hingga suatu hari Charice yang kala itu masih berusia 3 tahun harus menyaksikan ibunya ditodong pisau oleh sang Ayah. Waktu itu Charice tidak bisa melakukan apa-apa karena masih kecil, dan hanya bisa menangis. Sejak saat itu ia dibesarkan sendiri oleh ibunya. Ibunya harus bekerja selama 16 jam per hari sebagai buruh pabrik untuk dapat menghidupi Charice dan adiknya. 

Dengan segala keterbatasannya di masa kecil, Cjarice tidak lantas putus asa. Ia justru memiliki impian yang tinggi di masa depannya. Ia ingin menjadi penyanyi besar kelak. 

Untuk mengejar cita-citanya, Charice terus melatih vocalnya setiap hari. Meskipun ia tidak dapat membaca not balok, secara outodidak ka terus belajar bernyanyi serta mengikuti perlombaan demi perlombaan. Bahkan saat umurnya masih 7 tahun, ia sudah mulai ikut kontes menyanyi amatir. Kompetisi demi kompetisi ia ikuti. Mulai dari pertunjukkan di Provinsi Laguna, tempat tinggalnya, sampai ke beberapa kompetisi menyanyi di stasiun televisi pun ia ikuti. Saat itu tujuannya sangat sederhana. Ia hanya ingin membantu keuangan keluarganya, meski sering kalah hanya karena dibilang tidak cantik.

Ketika dalam kompetisi amatir ia dinyatakan sebagai pemenang, biasanya ia memperoleh hadiah 5 atau 10 dolar. Jumlah yang kecil memang, tetapi baginya itu merupakan suatu anugerah yang sangat disyukuri oleh Charice dan ibunya pada saat itu. Dengan hadiah iu berarti mereka dapat menikmati pizza yang selama ini sangat sulit mereka nikmati. 

Jalan perjuangan Charice memang panjang. Hingga suatu ketika, perjuangan itu akhirnya membawa Charice ke titik terang. Pada tahun 2007 keajaiban datang. Seorang pria yang menggunakan nama samaran False Voice mengunggah video penampilan Charice dalam sebuah kompetisi. Tanpa diduga, video itu menjadi pembicaraan di internet. Hingga akhirnya Charice diundang oleh acara Talent Show di Korsel, acara Talk Show Ellen DeGenere, hingga acara Oprah Winfrey.

Lewat Winfrey, Charice akhirnya bisa berkenalan dengam David Foster yang akhirnya mengajak Charice tampil di konsernya di Mandalay Bay, Las Vegas.



Di usianya yang masih sangat belia, keberhasilan Charice saat ini, tidak lain berkat sebuah cita-cita besar dari seorang Charice kecil. Charice membuktikan bahwa dengan impian, semua manusia dapat meraih kesuksesannya meski awalnya ia hidup dengan kondisi penuh keterbatasan. Charice, dengan kesederhanaannya dan kecintaannya kepada sang bunda, telah berhasil membuktikan bahwa dirinya memang layak umtuk mendapatkan semua itu. 

Impian dan cita-cita adalah sebuah jalan mutlak yang harus ada dalam diri calon manusia besar. Impian adalah pemandu utama jalan hidup yang akan mengarahkan perjalanan hidup supaya tidak membelok pada alur yang salah. Akan ada jurang perbedaan yang cukup lebar pada diri orang yang bermimpi dengan yang tidak. Sang pemimpi selalu melakoni hidup dalam koridor dan aljr yang terarah. Mereka menciptakan mimpi agar hidul mereka memiliki tujuan yang jelas. Dan yang membahagiakan adalah fakta sejarah yang membuktikan bahwa tidak ada 'orang besar' tanpa melalui 'orang kecil'. Orang besara adalah orang kecil yang memiliki impian menjadi orang besar, bekerja keras menggapai apa yang diimpikan, serta pantang menyerah ketika batu-batu terjal hadir ditengah perjalanannya.

Sumber. Ahmad Rifa'i Rif'an. 2011. Man Shabara Zhafira. Penerbit Elexmedia Komputindo

Minggu, 05 April 2020

Natrium Hipoklorit (Sodium Hypochloride)

Natrium Hipoklorit (Sodium Hypochloride) merupakan senyawa kimia dengan rumus molekul NaOCl atau NaClO, berbentuk cair, berwarna hijau muda dengan titik didih 102 0C. Pada temperatur 20 0C, senyawa ini memiliki pH 12 - 13, larut dalam air, dan memiliki densitas 1,22 - 1,35 g/cm3.

Senyawa ini dimanfaatkan sebagai zat aktif dalam salah satu produk pemutih pakaian (Bayclin) yang saat ini sedang banyak dicari oleh masyarakat untuk pembuatan disinfektan ditengah mewabahnya virus Covid-19 di Indonesia. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh masyarakat dalam membuat disinfektan dari produk pemutih yang mengandung senyawa ini yaitu bahwa natrium Hipoklirit bersifat korosif yang artinya jika terkena zat ini dapat merusak jaringan kulit maupun permukaan benda. Sehingga  dalam pembuatan disinfektan perlu dilakukan pengenceran terlebih dahulu. Sebagai informasi, kadar NaOCl dalam Bayclin sebesar 5,25% sedangkan menurut WHO pembuatan disinfektan berbahan aktif senyawa natrium hipoklorit memiliki kadar 0,5%.





Proses pengenceran dapat dilakukan dengan cara menghitung terlebih dahulu berapa volume cairan Bayclin yang akan diambil untuk membuat larutan disinfektan 1 L dengan kadar NaOCl 0,5%.

Rumus Pengenceran larutan:  M1V1 = M2V2, dimana, M1 = konsentrasi molar NaOCl dalam larutan sebelum diencerkan, V1 = volume larutan yang akan diambil, M2 = konsentrasi molar NaOCl dalam disinfektan, dan V2 = volume disinfektan yang dibuat.

sehingga volume cairan Bayclin yang akan diambil untuk membuat larutan disinfektan 1 L dengan kadar NaOCl 0,5% adalah 

Penyelesain:
5,25% NaOCl dalam Bayclin ≈ 0,705 M (Mr. NaOCl = 74,5)
0,5% NaOCl dalam disinfektan ≈ 0,067 M

M1V1 = M2V2
0,705 M x V1 = 0,067 M x 1000 mL
              V1 =  95,04 mL


Sumber: 
WHO. 2020. Water, Sanitation, Hygiene, and Waste Management for The Covid-19 Virus. https://apps.who.int/iris/rest/bitstreams/1271257/retrieve
Material Safety Data Sheet (MSDS) Sodium Hypochlorite.



Sabtu, 04 April 2020

Galat dalam Analisis Kimia Kuantitatif

Problem 2.1
Seorang mahasiswa menentukan kadar kalsum dalam daun kelor menggunakan metode gravimetri. Kadar kalsium yang dihasilkan adalah 3,2% (b/b). Kadar kalsium yang diperoleh menunjukkan adanya perbedaan yang cukup besar dibandingkan pengukuran yang dilakukan oleh laboran dengan sample dan metode yang sama. Hasil pengukuran laboran menunjukkan kadar kalsium sebesar 7,8%. Mengapa hal ini terjadi? 

Dalam setiap hasil pengukuran dapat saja terjadi galat (error, kesalahan, atau sesatan). Galat dalam analisis kimia kuantitatif dikelompokkan menjadi dua yaitu: galat pasti dan galat tidak pasti. Galat pasti (determinate error) atau galat sistematis (systematic error) adalah kesalahan yang dapat diprediksi oleh orang yang benar-benar memahami berbagai aspek pengukuran. Jenis galat pasti antara lain: galat metode analisis, galat operasional dan galat instrumental.

a. Galat Metode Analisis
Galat metode merupakan hal yang paling sering terjadi dalam analisis kimia. Galat tersebut umumnya disebabkan oleh keberadaan zat/ matriks lain  yang mempengaruhi hasil pengukuran analit. Keberadaan zat tersebut dapat memperbesar ataupun memperkecil hasil pengukuran analit. Misalnya pada penentuan aluminium (Al) secara gravimetri menggunakan pengendap amonia. Jika di dalam sampel terdapat juga ion besi (Fe), maka ion besi akan ikut mengendap, sehingga hasil pengukuran menjadi lebih besar. Sebaliknya pada saat penentuan ion klorida menggunakan metode Volhard. Jika di dalam sampel terdapat ion Fe3+, maka titik akhir terdeteksi lebih awal. Hal ini menyebabkan hasil pengukuran menjadi lebih rendah. Akibat kesalahan metode lainnya adalah endapan yang terjadi belum sempurnadan tidak sesuai dengan yang diinginkan.

b. Galat Operasional
Galat operasional biasanya terjadi karena terbatasnya kemampuan seorang analis dalam melakukan analisis kimia. Misalnya mengambil sejumlah volume tertentu larutan sampel yang akan dianalisis dengan menggunakan pipet ukur, membiarkan masih ada gelembung udara yang ada dalam buret, meniup cairan yang terdapat pada ujung pipa ukur, menimbang zat higroskopis pada cawan dengan menggunakan timbangan teknis atau salah dalam mengoperasikan instrumen. Untuk meminimalkan kesalahan dalam pengukuran dengan menggunakan instrukmen dapat meminta bantuan dari operator.

c. Galat Instrumen
Galat instrumen terjadi karena ketidakmampuan instrumen (alat ukur) untuk beroperasi sesuai dengan standar yang diperlukan. Misalnya dalam penggunaan timbangan analitis yang belum dikalibrasi. Oleh karena itu, setiap instrumen harus dilakukan kalibrasi dan optimasi sebelum digunakan.

Jenis galat yang kedua adalah galat tidak pasti (indeterminate error). Galat tidak pasti atau galat acak (random error) adalah kesalahan pengukuran yang penyebabnya tidak di ketahui dengan pasti. Galat tidak pasti terjadi dan tidak dapat dihindari. Contoh: ketidaktelitian dalam pembacaan buret, kurang cermat dalam penentuan titik akhir, kurang cerman dalam penimbangan atau pencampuran zat-zat kimia, perubahan kondisi lingkungan kerja dll. 

Sumber: Dr. Indarini. 2014. Kimia Analitik Dasar. Penerbit Alfabeta. Bandung

Rabu, 30 Oktober 2019

Logam Berat Pada Bahan Makanan

Bahan makanan mengandung logam berat sebagai akibat dari pencemaran secara langsung atau tidak langsung. Penggunaan pestisida secara berlebihan merupakan contoh pencemaran logam berat secara langsung pada makanan. Jika tanaman ditanam pada tanah yang mengandung logam berat, atau dialiri air yang tercemar logam berat, maka keberadaaan logam berat didalam tanaman terjadi secara tidak langsung. 

Penggunaan pestisida dan pupuk secara berlebijan dapat menyebabkan terjadinya pencemaran logam berat Cu pada makanan. Logam berat lain yang sering terakumulasi pada tanaman adalah Pb. Cd, Cu, dan Zn. 

Beras yang ditanam di sawah dengan irigasi air limbah penambangan emas tradisional disekitas Pongkir Kabupaten Bogor mengandung Hg dalam jumlah 0,25 - 0,45 ppm. Dilaporkan pula bahwa makanan kaleng mengandung Pb dalam jumlah 50-100 mikrogram/kg, jeroan (hati dan ginjal) mengandung Pb sekitar 170 mikrogram/kg, serta kerang-kerangan dan udang-udangan sekitar 250 mikrogram/kg.

Sayuran yang ditanam dipinggir atau dekat dengan jalan raya dan rentan polusi udara mengandung logam berat dalam jumlah tinggi. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kandungan Pb dalam sayuran tersebut cukup tinggi, yaitu sekitar 28,78 ppm. Nilai ini berada jauh diatas ambang batas aman yang diizinkan Depkes RI Tahun 1989, yaitu 2 ppm.

Penelitian lain yang dilakukan Ayu (2002) memperlihatkan bahwa kangkung dan bayam yang dijual dipasar-pasar wilayah Bogor mengandung Pb antara < 0,01 - 3,12 ppm pada kangkung dan < 0,01 - 3,38 ppm pada Bayam. Dinyatakan bahwa jalur distribusi dan cara pengangkutan sangat berpengaruh terhadap bertambahnya kadar Pb karena adanya tambahan cemaran Pb dari emisi gas buangan kendaraan bermotor selama proses distribusi.

Sayuran air termasuk pada tanaman yang mudah tumbuh pada lingkungan tercemar. Akibatnya, apabila terjadi pencemaran logam berat pada lingkungan, maka logam berat tersebut akan diserap melalui akar dan stomata daun dan selanjutnya terserap ke dalam jaringan tanaman. Jika tanaman tersebut dimakan oleh makhluk hidup lain, termasuk manusia, maka terjadilah proses penumpukan atau biomagnifikasi melalui siklus rantai makanan. Logam berat yang terakumulasi di dalam jaringan tubuh akan menimbulkan keracunan bagi hewan atau manusia jika telah melewati ambang batas toleransi.

Bangun (2005) telah meneliti kandungan Pb dan Cd pada tubuh ikan sokang yang diperoleh dari Perairan Ancol, Teluk Jakarta. Hasil penelitiannya menemukan kadar Pb dalam daging ikan sokang adalah sekita 3,2144 - 5,1653 ppm dan kadar Cd antara 0,0023 - 0,2368 ppm. Dari data ini dapat dilihat bahwa kadar Pb yang ada dalam daging ikan sokang telah melampaui batas maksimum cemaran logam berat dalam makanan menurut Badan POM, sehingga ikan tersebut sudah tidak aman untuk dikonsumsi. Jika dikonsumsi dalam tubuh manusia dapat mempengaruhi dan mengganggu kesehatan manusia, bahkan menyebabkan kematian.




Adanya logam berat dalam tubuh ikan terjadi karena proses difusi melalui permukaan kulit, masuk melalui insang, dan melalui rantai makanan. Jumlah atau akumulasi logam berat dalam jaringan juga sangat dipengaruhi oleh jenis logam dan spesies. Logam berat yang teradsorpsi langsung melalui air akan terakumulasi dan menyebabkan ikan serta organisme air lainnya akan tercemar logam berat.

Sumber: Alsuhendra dan Ridawati. 2013. Bahan Toksik dalam Makanan. Penerbit Rosdakarya. Bandung   

Sabtu, 26 Oktober 2019

Apa MSDS (Material Safety Data Sheet) itu? dan Informasi Apa Saja Yang Ada di Dalamnya? (Bagian 2)




Bagian 9 (Section 9)
Bagian 9 berisikan informasi mengenai sifa-sifat fisik dan kimia dari bahan kimia. Sifat-sifat ini meliputi wujud bahan dalam temperatur kamar, penampakan fisik, bau, pH, tekanan uap pada temperatur kamar, kekentalan, titik leleh, suhu dekomposisi, kelarutan, massa molekul relatif, dan rumus molekul.

Bagian 10 (Section 10)
Bagian 10 berisikan informasi mengenai stabilitas dan reaktivitas bahan kimia. Kondisi-kondisi agar bahan stabil, dan kondisi-kondisi yang harus dihindari, serta bahan-bahan lain yang tidak boleh bercampur dengannya.

Bagian 11 (Section 11)
Bagian 11 berisikan informasi mengenai toksikologi. Informasi mengenai apakah bahan kimia ini bersifat karsinogen (memicu pertumbuhan sel-sel kanker), epidemi, mutagenik, dan lain-lain.

Bagian 12 (Section 12)
Bagian 12 berisikan informasi mengenai efek bahan kimia terhadap lingkungan. Informasi meliputi toksisitas terhadap lingkungan, daya penguapan, pencucian, dan degradasi oleh makhluk hidup yang lain.

Bagian 13 (Section 13)
Bagian 13 berisikan informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pembuangan. Pada umumnya informasi yang diberikan tidak cukup rinci.

Bagian 14 (Section 14)
Bagian 14 berisikan informasi mengenai transpor informasi, yaitu nomor pengiriman, klasifikasi bahaya, klasifikasi tata cara pengepakan, dan lain-lain.

Bagian 15 (Section 15)
Bagian 15 berisikan informasi mengenai regulasi. Berisikan juga kode bahaya yang mengindikasikan, bahaya prinsip berkaitan dengan bahan kimia, dan penyebab bahaya ketika bekerja dengan bahan tersebut.

Bagian 16 (Section 16)
Bagian 16 berisikan informasi tambahan, seperti tanggal penerbitan MSDS, nomor revisi dokumen, tanggal revisi, daftar referensi, dan informasi lain yang bermanfaat.


Sumber: Khamidinal. Teknik Laboratorium Kimia. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Jumat, 25 Oktober 2019

Agent Pengkhelat/ Chelating agent

Agen pengkhelat adalah senyawa kimia yang strukturnya memungkinkan pemasangan dua atau lebih atom donor (atau situs) ke ion logam yang sama secara bersamaan dan menghasilkan satu atau lebih cincin. Moleku-molekul ini juga disebut chelates atau kelompok chelating, dan pembentukan cincin disebut chelation. Kompleks logam ini memiliki kemampuan untuk menyelesaikan ke dalam bentuk aktif optik (R dan L).

Proses chelation tergantung pada sifat-sifat logam dan agen chelating, seperti diameter ion, ukuran cincin dan deformabilitas, serta kekerasan atau kelunakan donor elektron dan akseptor (Flora et al, 2015).

Sebagian besar logam yang ditemui umumnya bereaksi dengan ligan O-, S-, dan N karena mereka mengandung pasangan elektron mandiri. Mekanisme sederhana proses khelasi oleh chelating agent dapat diamati pada Gambar 1 berikut:




                                Gambar 1. Mekanisme pembentukan kompoleks khelat oleh chelating agent

Stabilitas kompleks logam berbeda dengan pola pembentukan kompleks dan perbedaan stabilitas menjadi lebih relevan dalam larutan yang semakin encer dalam sistem biologis seperti serum atau jaringan. Toksokinetik dan toxicodinamik dari logam dan agen chelating merupakan bagian integral dari terapi khelasi yang efektif disamping kriteria berikut yang juga harus dipenuhi:
1. Afinitas tinggi untuk logam beracun
2. Afinitas rendah untuk logam penting
3. Toksisitas minimal
4. Kelarutan lemak
5. Daya serap yang baik dari saluran pencernaan.

Apa MSDS (Material Safety Data Sheet) Itu? dan Informasi Apa Saja Yang Ada Di Dalamnya?

MSDS (Material Safety Data Sheet) merupakan lembaran yang ditujukan untuk membantu mengenali akan potensi bahaya yang mungkin timbul terhadap penggunaan bahan kimia. MSDS berisikan sifa-sifat fisik dan kimia dari bahan seperti titik leleh, titik didih, reaktifitas dan lain-lain. Disamping itu MSDS berisi juga tata cara dalam menangani jika sewaktu-waktu terjadi kecelakaan dalam keadaan darurat. Untuk mendapatkan gambaran umum seperti apakah bentuk dokumen MSDS itu, anda dapat mengklik link berikut yang akan menampilkan MSDS dari Hidrogen Peroksida (H2O2) sebagai contohnya. http://jmi.co.id/wp-content/uploads/2018/07/MSDS-H2O2-.pdf




Perlu diketahui lembaran MSDS terdiri dari 16 bagian (section), yaitu:
Bagian 1 (Section 1)
Bagian ini berisikan informasi mengenai nama produk, nomor katalog, nama kimia, asal pabrik, dan nomor telepon keadaan darurat yang dapat dihubungi.

Bagian 2 (Section 2)
Bagian 2 berisikan informasi mengenai nama kimia, kadar kandungan senyawa, simbol bahaya, dan golongan resiko.

Bagian 3 (Section 3)
Bagian 3 berisikan informasi mengenai penampakan secara fisik, potensi bahaya terbesar yang dapat ditimbulkan oleh bahan kimia. Organ-organ yang dapat terkena resiko dan jenis bahaya yang ditimbulkannjuga dijelaskan pada bagian ini.

Bagian 4 (Section 4)
Bagian 4 berisikan informasi mengenai tindakan pertama yang harus dilakukan apabila menjumpai keadaan bahaya seperti ini. Contoh:
Mata: jika mata terkena bahan kimia ini, maka segera periksa dan lepaskan lensa kontak, segera basuh dengan air selama paling sedikit 15 menit, air dingin dapat digunakan, segera dapatkan penanganan medis.

Bagian 5 (Section 5)
Bagian 5 berisikan informasi mengenai alat pemadam kebakaran yang sesuai dengan bahan kimia ini. Misalnya bahan kimia kering (dry chemical), karbondioksida padat, atau busa (foam).

Bagian 6 (Section 6)
Bagian 6 berisikan informasi mengenai tata cara atau prosedur yang harus diikuti untuk menghindarkan bahan kimia setelah terjadi kecelakaan, meliputi pembersihan dari tumpahan, peralatan keselamatan kerja yang harus dikenakan oleh petugas, dan lain-lain.

Bagian 7 (Section 7)
Bagian 7 berisikan informasi mengenai prosedur penyimpanan dan penanganan. Informasi ini sangat penting berkaitan dengan setiap saat petugas berinteraksi dengan bahan kimia ini. Informasi meliputi apakah bahan kimia ini mudah terbakar, resiko meledak, resiko membentuk senyawa peroksida, dan lain-lain.

Bagian 8 (Section 8)
Bagian 8 memberikan informasi megenai peraturan standar ambang batas maksimum di Lingkungan serta peralatan khusus yang digunakan oleh seseorang yang bekerja dengan bahan kimia tersebut.

Penjelasan tentang section selanjutnya akan ditulis dipostingan berikutnya ya... Terima Kasih, Barakallah fiikum 😊